Dinamika Pertumbuhan Komunitas Baca di Sumatera Barat melalui Forum TBM Sumbar

Salah satu penanda tumbuhnya ekosistem literasi di suatu daerah adalah kehadiran komunitas baca. Komunitas ini hadir dengan beragam sebutan—rumah baca, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), teras baca, pondok baca, hingga nama-nama yang lahir dari bahasa dan kearifan lokal. Apa pun penyebutannya, tujuan mereka tetap sama: menghadirkan layanan membaca dengan mendekatkan buku kepada masyarakat.

Di Ranah Minang, Forum Taman Bacaan Masyarakat (Forum TBM) Sumatera Barat menjadi salah satu penggerak literasi yang menapaki jalannya sendiri. Dalam dua tahun terakhir, geliat literasi yang digerakkan Forum TBM Sumbar menunjukkan tren yang terus menanjak. Komunitas baca tumbuh di berbagai daerah, ragam aktivitas literasi semakin kaya, dan jejaring antarpenggiat kian menguat.

Sejak dikukuhkan pada Januari 2024 di UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, Bukittinggi, Forum TBM Sumbar bergerak aktif sebagai ruang temu, ruang belajar, sekaligus ruang kolaborasi bagi para pegiat TBM di seluruh Sumatera Barat. Dinamika itu tercermin dari pertumbuhan jumlah anggota yang signifikan. Jika pada awal 2024 Forum TBM Sumbar menaungi 35 TBM, maka hingga akhir 2025 jumlah tersebut melonjak menjadi 197 TBM. Artinya, terjadi peningkatan hampir 500 persen hanya dalam kurun waktu dua tahun.

“Batamu” Kegiatan Temu Pegiat TBM Sumbar yang akan menjadi agenda tahunan

Lonjakan ini tentu tidak terjadi begitu saja. Ada stimulus yang menguatkan gerak komunitas, salah satunya melalui dukungan program pemerintah yang menyasar langsung anggota Forum TBM. Di antaranya adalah Bantuan Pemerintah dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia berupa 1.000 bahan bacaan bermutu beserta satu unit rak buku. Selain itu, Program Bantuan Pemerintah Komunitas Literasi (Banpem Komlit) dari Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, menyasar 440 komunitas literasi di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, Sumatera Barat memperoleh kuota bagi 15 komunitas anggota Forum TBM. Masing-masing komunitas menerima fasilitasi dana sebesar Rp50 juta untuk melaksanakan beragam kegiatan literasi sepanjang periode 2024–2025.

“Memang benar, stimulus yang dilakukan pemerintah dalam dua tahun terakhir sangat membantu tumbuhnya ekosistem literasi di Sumatera Barat. Namun, jika stimulus tersebut tidak diiringi dengan upaya pengorganisasian, dampaknya tentu tidak akan sebesar ini,” ujar Hasan, Ketua Forum TBM Sumbar.

Awal 2024 menjadi masa yang berat bagi Forum TBM Sumbar. Penataan keorganisasian dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pendataan keanggotaan, penyebaran tautan pendaftaran, verifikasi calon anggota TBM, hingga penetapan keanggotaan resmi Forum TBM. Tidak berhenti di situ, pendampingan juga diberikan agar para anggota mampu memenuhi persyaratan untuk memperoleh bantuan pemerintah berupa 1.000 buku dari Perpustakaan Nasional. Seluruh proses ini menyimpan kisah suka dan duka tersendiri. Menghimpun kawan-kawan TBM yang tersebar di 19 kabupaten dan kota—yang sebelumnya belum pernah saling bertemu—jelas bukan perkara mudah. Namun, justru dari proses itulah jejaring literasi Sumatera Barat perlahan tumbuh dan menguat.

Jika tahun 2024 menjadi fase konsolidasi internal, maka tahun 2025 menandai upaya penguatan gerakan ke arah eksternal. Forum TBM Sumbar mulai membangun kerja sama dengan berbagai mitra yang memiliki visi sejalan dalam menggerakkan literasi, baik dari unsur pemerintah maupun swasta. Sejumlah advokasi yang dilakukan pun membuahkan hasil. Kepercayaan mitra terhadap Forum TBM Sumbar semakin kuat, ditandai dengan pelaksanaan berbagai kegiatan, baik berskala lokal maupun nasional.

Kegiatan Fasilitasi Penggiat Literasi Sumbar 2025 Di Agam

Pada Juli 2025, misalnya, terlaksana kegiatan Fasilitasi Penggerak Literasi 2025 yang difasilitasi oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia bersama Forum TBM Pusat. Kegiatan ini melibatkan 50 pegiat TBM dari berbagai penjuru Sumatera Barat. Selain itu, Forum TBM Sumbar juga menggelar kegiatan “Batamu”, sebuah temu pegiat TBM yang dilaksanakan di Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota. Kegiatan ini dirancang menjadi agenda tahunan—sebagai ikhtiar merawat silaturahmi, berbagi praktik baik, dan menjaga nyala literasi tetap hidup di Ranah Minang.

Ruang perjumpaan itu tidak hanya hadir secara luring, tetapi juga terawat di ruang digital. Percakapan-percakapan positif dan saling menguatkan tumbuh di grup WhatsApp Forum TBM Sumbar. Di sana, para pengelola TBM berbagi praktik baik melalui foto dan video, saling mengabarkan peluang donasi buku, hingga informasi pelatihan literasi untuk penguatan kapasitas pengelola. Lebih dari itu, ruang percakapan tersebut menjadi forum diskusi hangat tentang kesadaran literasi, sekaligus menegaskan pentingnya organisasi Forum TBM sebagai rumah bersama, dengan segala dinamika yang menyertainya.

Perjalanan Forum TBM Sumatera Barat masih panjang. Namun, selama jejaring tetap terhubung dan semangat kolaborasi terus dirawat, nyala literasi akan tetap menyala—menerangi ruang-ruang kecil yang kelak menumbuhkan perubahan besar.

Salam Literasi!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *